intermezzo

ceritasingkat

ketika canda tengah bercengkerama dengan marabahaya..
tak tenang, larilah sendu terobos luka biru..
sampai disana terlihat canda telah tertelan marabahaya.
murka sang sendu melompat, menghantamkan tinjunya dalam marabahaya, buat sekujur tubuhnya terjerembab masuk dalam lubang tanpa angkara, tanpa aksara, tanpa udara..

belum puas sang sendu, naik panjat lubang dengan dera peluh penuh sekujur tubuh..
kembali menghantamkan kakinya yang coklat bertanah pada wajah marabahaya..
murka, marabahaya cengkram, gigit lengan sendu, hingga jemari sendu tergantung pada selembar kulit tipis nyaris putus..

elegi tengah kota

meretas musnah, dalam raga seorang pertapa
meghancur rasa, lebur jiwa puak angkara

cuaca mendung tutup reruntuhan rongsok pusat kota.
singkap aib berbalut gemuruh yang selalu terlambat.

tak pernah berganti panas, kendara peluh penuh polusi.
jika fajar, es tetap membeku tanpa indikasi luluh cair berganti.

pencakar langit, serta dinding tembus pandang merekah lubang marabahaya.
nyanyian indah kota hijau jadi oranye dipulas oleh tangan kuasa
jeritan layar bocah berbulu tinggal terlihat di layar pixel.
dibalik kamera penuh dusta, bohong tangan - tangan manusia.

jangan berfikir terus ciptakan
tapi terus ciptakan arah fikir

jangan berancang - ancang untuk lestari
tapi lestarikan ancang - ancang

tiru yang lalu
jangan melulu cipta hal baru

This is how it looks like under a wave

primitif

saya ini seperti manusia buta dan tuli.
dimana mereka merepresentasi apa yang mereka lihat lewat tumpukan pixel warna warni.
dan yang mereka dengar lewat untaian kata bersambung berbuah kalimat,mereka kumandangan .

sementara saya?

melihat menggunakan logika.
hanya menghasilkan representasi berupa kumpulan huruf dan tersebut kata, menjadi kalimat acak nyaris tak urut.

mendengar lewat rasa.
hanya dengungan panjang pendek dibumbui ketik ketuk menghentak yang sekiranya membuat tubuh lemas, melayang.

primitif memang, tapi modernisasi itu sesungguhnya membawa kita mundur dengan cara berjalan maju.
sadarkah kita, saya, anda, kamu, aku.

lihatlah lagi, dengarlah lagi, rabalah lagi, selami lagi.

we do have to follow the rules, but not stick to the rules.
look forward, so you will not left behind.

qgstmn

om

jenuh

berkutat dengan kusutnya benang hitam dalam balutan cairan merah dan daging segar berwarna pink ini kdang membuat saya jengah juga.
punya awal tapi tak punya akhir, melankolis dan terus mengikis realistis.

astaga Tuhan, apa ini takdir makhluk semi sempurna yang mereka bilang manusia, berkutat, terjerat, terperangkap.
dan jika kau cukup kuat menggeliat maka kau mendapat gelar succes.
tapi jika geliatmu tertahan oleh tangguhnya rasa dan sirnanya logika.
hanya sumur hitam satunya tujuan.

bukan mengeluh, atau malah berceramah, saya tidak cukup suci untuk mengenakan sorban ala haji, dan tak cukup depresi untuk mengeluhkan maki.
mungkin sedikit frustasi yang dicampur lemak jenuh, jadinya awet bikin perut seketika membuncit, gerak melambat, dan panca indera melemah.
hingga akhirnya hilanglah kemauan dan mulut mengambil alih kerja otak untuk mengirim signal melangkah menjadi memaki, berfikir menjadi bercaci.
astaga Tuhan saya semakin terdengar mengeluh.
seperti minyak dalam air yang terus tertekan ke bawah.
ah mungkin malam bisa menetralisir warna kuning dan bening menjadi kembali jernih.

selamat malam
terimakasih Tuhan

hati mengikat kaki, menjerat rasa langkah demi langkah, hilangkan id berbalut samaran ego, mencuatkan lugu diatas topeng topeng dusta belaka

samadhi

cobalah terdiam, renungkan, dalam samadhi, lalu saat kau lihat cahaya, perlahan gerakan tanganmu meraihnya, lepaskan raga, percaya, sempurna

Jerat terlihat dengan tatap mata nanar, berkawan pilu dan sendu, gemerlap dalam gelap, berjingkat diatas kawat, melihat penuh pilu

Kelam, sepi emosi, tiada arti, miliki ati, pilihi diri, hingga sakti, berkawan suci.

Suar risau dalam kelana, citra dengan aroma dupa, menelisik, menelusup utama, menghirup aroma, mendengar surau serdadu berbisik, alam jiwa

Rupa tiada raga,mandala utuh berwindu, merasa tiada asa, menyentuh penuh berpeluh, sakral, bertuah, semua dalam perjalanan spiritual.

Tanpa inti, arti, makna, isi, hanya kelana.

cangkir kopi dan tanah lembab

Sudah terlalu lama saya tidak menikmati hujan
Berlari dan bersembunyi dari air mata anugrah Tuhan
Dengan dalih takut basah, takut sakit, dingin
Ingat masa saat duduk menghadap jendela menatap baruna
Sebatang rokok, dan secangkir kopi melengkapi bersama

Rasanya waktu membuat manusia jadi pengecut
Mengeluh karena injakannya lembab
Memaki karena setelannya basah
Menggerutu karena topengnya luntur

Tak seperti tetumbuhan yg dengan sedia menerima sang baruna
Berbahagia terbasahi
Menjulang dengan rintik lembab
Seakan berlomba menggapai langit muram

Merenung menyelami asa dalam dinginnya udara dan bebauan tanah basah
tak tergantikan bahkan dengan sekatel coklat panas
Terik panas berbanding terbalik dengan udara hujan
Hanya mereka memiliki kesamaan
Membuat saya terbengong menghempaskan semua sisa asa dalam pelukan angin dingin

More Information