ketika canda tengah bercengkerama dengan marabahaya..
tak tenang, larilah sendu terobos luka biru..
sampai disana terlihat canda telah tertelan marabahaya.
murka sang sendu melompat, menghantamkan tinjunya dalam marabahaya, buat sekujur tubuhnya terjerembab masuk dalam lubang tanpa angkara, tanpa aksara, tanpa udara..
belum puas sang sendu, naik panjat lubang dengan dera peluh penuh sekujur tubuh..
kembali menghantamkan kakinya yang coklat bertanah pada wajah marabahaya..
murka, marabahaya cengkram, gigit lengan sendu, hingga jemari sendu tergantung pada selembar kulit tipis nyaris putus..